Senin, 26 Desember 2011

KEDAMAIAN HATI


Kedamaian Hati-Kedamaian Sejati
Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenagkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih diantara keduanya.
Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga yang itu bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang tenang menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang mandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.
Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Disisi gunung  ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Di dalam  semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.
Lukisan manakah yang memenangkan lomba?
Sang Raja memilih lukisan nomor dua.
Tahukah Anda mengapa? Karena jawab sang Raja, "kedamaian bukan berarti Anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati."




CERITA TENTANG RAJA DI CINA

Alkisah, pada jaman raja-raja tiongkok, ada seorang raja yang selalu
didampingi oleh perdana mentrinya.
Sang Raja sangat sayang kepada PM itu dan selalu mendengarkannya.
Suatu hari mereka berdua berburu...dan tak sengaja jari kelingking sang
raja terluka dan harus dipotong satu ruas.
Bertanyalah sang raja kepada perdana mentrinya...
Apakah yang harus dilakukan dengan kelingking yang terpotong itu ?
Perdana mentri menjawab, Bersyukurlah karena hanya satu ruas jari
kelingking saja yang hilang.

Bukan main marahnya sang raja mendengar nasihat PM-nya itu..
Segala murka ditumpahkan dan 'take him to the dungeon'....perintah sang
raja.
Dipenjarakannya sang Perdana Mentri yang setia itu.
Beberapa bulan berikutnya Sang raja berburu bersama perdana mentri yang
baru.
Mereka tersesat di hutan dan ditangkap oleh penduduk hutan yang masih
primitif.
Mereka segera menyiapkan upacara persembahan untuk dewanya ...
Sang raja dan perdana mentri baru digiring, diikat dan disiapkan untuk
persembahan.

Ketika mereka melihat bahwa satu ruas kelingking raja tersebut
hilang..mereka berteriak..
'Yang satu ini tidak layak dipersembahkan, usir saja dia...'
Sang raja, dengan berjalan tertatih-tatih akhirnya keluar dari hutan dan
sampai di istananya.
'Segera bebaskan perdana mentriku' titah sang raja.
Kemudian sang rajapun bercerita pengalamannya kepada perdana mentri
Yang lama.

Syukur, karena dia masih dilindungi dan selamat.
Perdana mentri yang sudah lama dipenjara itu menangis dan berkata.
'Saya juga sangat bersyukur karena Tuan Raja memenjarakan saya'
Sang raja merasa heran dan bertanya kenapa.
“Kalau Tuan tidak memenjarakan saya, mungkin saat ini saya sudah tidak
disini lagi, dan sudah dikorbankan oleh penduduk hutan tersebut'

“ Ingatlah : Apapun yang terjadi dan dalam keadaan apapun, selalu
bersyukurlah karena pasti ada rencana yang indah dari Allah SWT.”

SEPULUH MAKANAN SEHARI - HARI ANTI KOLESTROL


Ketika kadar kolesterol darah kita meninggi, selama ini kita hanya diberi tahu harus berpantang makanan ini-itu untuk mengendalikannya. Padahal, akan lebih efektif hasilnya jika kita juga mengonsumsi makanan bersifat antikolesterol. Apa sajakah?

Cara mengendalikan kadar kolesterol dengan metode terapi nutrisi adalah makan lebih banyak bahan nabati dan mengganti lemak berbahaya dengan lemak sehat. Mengonsumsi lebih banyak makanan nabati akan meningkatkan asupan protein nabati, yang bekhasiat menurunkan kadar kolesterol berlebih. Lemak jenuh (contohnya lemak hewan, mentega), lemak trans, (misalnya margarin, minyak jelantah), dan kolesterol dalam makanan (seperti kuning telur, daging berlemak) secara nyata menaikkan kadar kolesterol darah. Contoh lemak sehat diantaranya minyak canola, minyak zaitun, alpukat, kacang tanah, almond.

Nah, guna membantu mengendalikan kadar kolesterol agar tetap sehat, cobalah mulai lebih sering memasukkan makanan berikut dalam menu harian Anda.

1.   Jamur
Kaya kromium, mineral yang membantu memecah lemak menjadi senyawa sederhana, yakni asam-asam lemak. Aktivitas ini membantu menyusutkan kadar "lemak jahat" LDL dan meningkatkan kadar "lemak baik" HDL. Cukup asupan vitamin C bermanfaat meningkatkan penyerapan kromium. Sumber lain kromium adalah kacang-kacnagan, seperti kenari, kacang tanah, kacang mete, almond.

2.   Kuaci tawar
Selama ini kuaci kita sepelekan, padahal banyak mengandugn zat tembaga. Pola makan rendah asupan tembaga berkaitan dengan naiknya kadar "kolesterol jahat" LDL dan terbatasnya "kolesterol baik" HDL. Karena itu, lebih sering nikmati kuaci, terutama yang tawar, baik kuaci biji labu maupun biji bunga matahari.

3.   Jeruk nipis
Diantara beragam jenis jeruk, jeruk nipis atau jeruk lemon adalah yang paling banyak mengandung flavonoid. Senyawa ini mampu menghambat produksi "kolesterol jahat" LDL berlebihan, sehingga mengurangi risiko serangan jantung. Flavonoid bisa pula diperoleh dalam teh, brokoli, tomat, kedelai, bawang berlapis-lapis seperti bawang merah dan bawang bombai, delima. Bagaimana mengonsumsi jeruk nipis atau jeruk lemon? Mudah saja. Campurkan sesendok makan air jeruk dalam air putih atau jus buah.

4.   Apel
Serat larut yang banyak terdapat dalam apel, apalagi yang dimakan bersama kulitnya, merupakan sumber betaglukan (beta glucan). Di dalam tubuh, betaglukan ikut berperan mengontrol penyerapan dan produksi kolesterol. Makin tinggi mengendalikan kadar kolesterol dalam darah. Sumber lain: pepaya, buah-buahan yang dimakan bersama kulitnya (apel pear), wortel, kapri dan sayuran polong-polongan lain pada umumnya (buncis, kecipir, kacang panjang), polong-polongan kering (kacang hijau, kacang merah, kacang tolo), beras merah.


5.   Ikan tuna
Termasuk sumber asam lemak mega 3 yang populer, selain ikan salmon dan makarel. Dalam satu hasil penelitian terhadap penduduk yang secara alami pengosumsi banyak ikan, jumlah mereka yang menderita penyakit jantung ternyata sangat rendah. Omega-3 secara khusus melindungi tubuh terhadap kenaikan kadar "kolesterol jahat" LDL.

6.   Jambu-biji merah
Sama seperti semangka merah dan tomat merah, jambu-biji merah ini kaya likopen. Dalam sebuah riset, sejumlah pengidap hiperkolesterol diberi makanan sumber likopen secara rutin setiap hari. Setelah 3 bulan, kadar "kolesterol jahat" LDL mereka menyusut 14 persen. Likopen berkaitan dengan kerja enzim HMGCoA-reduktase, yang ikut berperan dalam mengendalikan produksi kolesterol.

7.   Alpukat
Asam pantotenat merupakan senyawa paling menonjol dalam alpukat yang berperan meredam kadar kolesterol darah. Asupan asam pantotenat, yang disebut juga vitamin B5, di dalam tubuh akan diubah menjadi pantetin. Ketika seseorang banyak mengonsumsi bahan makanan berlimpah asam pantotenat, pantetin dalam darahnya meningkat. Pada saat itu juga, kadar lemak darah menurun, khususnya "kolesterol jahat" LDL. Sebaliknya, kadar "kolesterol baik" HDL-nya meningkat. Sumber lain asam pantotenat: kuaci tawar biji bunga matahari, jamur, yogurt, ikan salmon.

8.   Tempe
Makanan rakyat ini berlimpah dengan senyawa fitokimiawi isoflavon, yang bersifat antikolesterol. Banyak juga terdapat dalam tahu dan susu kedelai. Berkhasiat menyusutkan kadar "kolesterol jahat" LDL, termasuk kolesterol total. Sebaliknya, isoflavon menggenjot kadar "kolesterol baik" HDL yang berperan mencegah penyakit jantung.

9.   Kacang tanah
Kacang kulit, yakni kacang tanah berkulit yang dipanggang dalam oven, mungkin ada baiknya dijadikan camilan sehat. Bukan karena terpengaruh iklan, tapi kacang panggang berkulit ini memang berlimpah lemak sehat sekaligus kaya vitamin E. Sumber lain vitamin E; alpukat, kuaci tawar biji bunga matahari, almond. Vitamin E "mengunci" radikal bebas agar tidak merusak "kolesterol jahat" LDL sehingga pembentukan plak di dinding pembuluh darah dapat dihindari dan mencegah serangan jantung.

10.  Mangga
Vitamin C banyak terdapat dalam mangga. Sumber lainnya: belimbing, aneka jenis jeruk (jeruk bali, jeruk keprok, dll), kedondong, pepaya, rambutan, strawberry, kiwi. Selain buah, beberapa jenis sayuran yang disantap mentah pun merupakan sumber vitamin C yang potensial, seperti kol, terutama kol merah, cabai merah, paprika merah. Vitamin C mencegah "kolesterol jahat" LDL teroksidasi, sehingga menghindarkan terbentuknya plak di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, vitamin C mampu membantu meningkatkan kadar "kolesterol baik" HDL. Vitamin C juga memperkuat peranan vitamin E, sesama senyawa antioksidan kuat sebagaimana vitamin C, dalam menghalangi meningkatnya kadar kolesterol darah.
Sumber: Majalah Nirmala



Selasa, 18 Oktober 2011

Download loader

 Bagi agan agan yang pernah mengalami windows seven nya dekstop pada laptop atau komputernya mengalami hitam(wallpapernya berubah dengan sendirinya) itu dikarnakan windows agan tersebut tidak riginal, tapi ndak usah khawatir gan solusinya bisa agan download disini 
<a href="http://www.ziddu.com/download/16903992/loader.rar.html">Download</a> caranya cuma di install aja gan, semoga postingan ini ber manfaat bagi yang memerlukannya, salam dan sukses slalu buat semua.

BUKAN DUA KAKI




BUKAN DUA KAKI"

*Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda
hingga syahidnya


Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panci. Tiba-tiba
ia teringat, ini sudah jam 4 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang
berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah
ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi,
sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al
Quds.

Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz
Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.

Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini.
Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang
dibahas pasti aktual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar.
Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa
ditawar-tawar.

Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustad Hanif menjelaskan
satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia
merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau
begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan
dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatik terhadap satu
pendapat tertentu.

"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak."

"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya penting tuh!"

"Sekarang Bu?"

"Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."

Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid
lalu berjalan mengikuti Bu Arif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat
Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa
puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan
masalah keagamaan di kompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak
Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk sholat
berjamaah.

"Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan.

"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam. "Silahkan masuk nak Shofa.

Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"

"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos.
Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan." jawab Shofa.

"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini nak Shofa, Bapak
ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain."

Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa....Apakah nak Shofa sudah siap
menikah?"

Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi...belum
ada jodohnya."

"Hmmmm.......begitu ya," Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus
jenggotnya.

"Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping
hidup.Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia."

"Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?"
tanya Shofa tersipu.

"Lho...Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa
ini gadis yang sholehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman
Bapak ini. Dia sholeh dan berakhlak baik. Nah...kalau begini, apa bukan cocok
namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.

"Iya...iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.

"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak ke sini untuk
dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif melanjutkan. "Bagaimana nak
Shofa?"

"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum cerita yang mau
dikenalkan ini siapa, bagaimana," tukas Bu Arif.

"Wah...dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih
muda.Lulusan S1 dan S2 dari Al Azhar Kairo. Dia juga hafidz Quran."

"Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa yang ia panjatkan
adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Quran, karena ia sendiri
sedang berusaha menjadi hafidzhoh.

"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di
beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al
Quds," papar Pak Arif.

"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al Quds lho Pak. Namanya siapa
Pak, mungkin saja saya pernah mendengar," kata Shofa.

"Namanya Hanif Ibrahim."

Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik.
Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah
salah satu tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio.
Tausiyah yang diucapkan nama itu pula yang membuat Shofa jadi banyak
berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang
kaffah.

Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. "Ada apa
Shofa?"

"Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."

"Nah...jadi sebetulnya sudah kenal tho, walau pun cuma dari radio," Pak
Arif terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu Hanif?"

"Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu
tentang masalah ini," jawab Shofa.

"Oohh....ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah Ibumu bilang kami
suruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.

Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah dianggapnya keluarga
itu,Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz
Hanif jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa
merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah
bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain
mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di
atas sajadah dengan bermunajat.

Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu
Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna
putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati,
buah dari istikharahnya.

"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan pintu.

"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang
menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan
wejangan bagaimana menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat
dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.

Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak
disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena
membentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda, dan
Pak Arif yang mendorong kursi roda sambil tersenyum.

Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz Hanif?" Berbagai
gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan
perasaannya.

Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya
sendiri.

"Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata Pak Arif memecah
kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berberda dengan di
radio. Tetap berkharisma.

"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif
mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah
Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif.

Cuma....memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya
kecelakaan.

Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri
harus diamputasi. Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya
memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata
dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak
terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan
menggunakan kruk saja."
Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif. Shofa mengangkat wajahnya
sedikit dan melihat sekilas ke arah Hanif.

"Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan
yang terpancar dari wajahnya." bathin Shofa.

"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya.
Inilah
saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan
kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat
membutuhkan kehadiran seorang istri."

Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki
yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok
seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak
mulia,dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang
menjadi generasi penghafal dan pengamal Quran. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok
yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.

"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia
tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak
Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?" Pak Arif
berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.

Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan bathinnya.
Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah sholat istikharah
sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif.
Saya punya satu pertanyaan untuk Ustadz Hanif."

"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata Hanif.

"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah
seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?" tanya Shofa.

Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan
adalah landasan aqidah, ibadah dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga
kemampuan untuk mendidik."

Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya
membiaskan senyum yang lebar.

"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki."

"Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.

Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif
menuju
kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu
tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik,
bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya
di atas kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah, jauhkanlah
kami dari syetan dan jauhkanlah dari syetan apa yang engkau rizkikan,
anak-anak kepada kami."

Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim.

"Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya Shofa.

"Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.

"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara sambil menunduk
malu-malu.

"Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif menyentuh dagu
Shofa,mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora
di jiwa mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri.
Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa.

Shofa memandang Hanif tersipu.

"Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.

"Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung beranjak dari duduknya
dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi. Bersama percikan air
wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua
mahluk kecintaan-Nya.

(terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda
hingga syahidnya.)




___________________)|(_______________________
"Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab
dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan
Ramadhan."
---------------------------------------------