BUKAN DUA KAKI"
*Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda
hingga syahidnya
Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panci. Tiba-tiba
ia teringat, ini sudah jam 4 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang
berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah
ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi,
sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al
Quds.
Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz
Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.
Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini.
Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang
dibahas pasti aktual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar.
Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa
ditawar-tawar.
Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustad Hanif menjelaskan
satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia
merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau
begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan
dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatik terhadap satu
pendapat tertentu.
"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak."
"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya penting tuh!"
"Sekarang Bu?"
"Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."
Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid
lalu berjalan mengikuti Bu Arif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat
Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa
puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan
masalah keagamaan di kompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak
Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk sholat
berjamaah.
"Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam. "Silahkan masuk nak Shofa.
Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos.
Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan." jawab Shofa.
"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini nak Shofa, Bapak
ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain."
Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa....Apakah nak Shofa sudah siap
menikah?"
Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi...belum
ada jodohnya."
"Hmmmm.......begitu ya," Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus
jenggotnya.
"Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping
hidup.Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia."
"Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?"
tanya Shofa tersipu.
"Lho...Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa
ini gadis yang sholehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman
Bapak ini. Dia sholeh dan berakhlak baik. Nah...kalau begini, apa bukan cocok
namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.
"Iya...iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.
"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak ke sini untuk
dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif melanjutkan. "Bagaimana nak
Shofa?"
"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum cerita yang mau
dikenalkan ini siapa, bagaimana," tukas Bu Arif.
"Wah...dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih
muda.Lulusan S1 dan S2 dari Al Azhar Kairo. Dia juga hafidz Quran."
"Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa yang ia panjatkan
adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Quran, karena ia sendiri
sedang berusaha menjadi hafidzhoh.
"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di
beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al
Quds," papar Pak Arif.
"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al Quds lho Pak. Namanya siapa
Pak, mungkin saja saya pernah mendengar," kata Shofa.
"Namanya Hanif Ibrahim."
Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik.
Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah
salah satu tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio.
Tausiyah yang diucapkan nama itu pula yang membuat Shofa jadi banyak
berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang
kaffah.
Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. "Ada apa
Shofa?"
"Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."
"Nah...jadi sebetulnya sudah kenal tho, walau pun cuma dari radio," Pak
Arif terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu Hanif?"
"Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu
tentang masalah ini," jawab Shofa.
"Oohh....ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah Ibumu bilang kami
suruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.
Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah dianggapnya keluarga
itu,Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz
Hanif jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa
merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah
bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain
mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di
atas sajadah dengan bermunajat.
Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu
Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna
putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati,
buah dari istikharahnya.
"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang
menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan
wejangan bagaimana menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat
dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.
Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak
disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena
membentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda, dan
Pak Arif yang mendorong kursi roda sambil tersenyum.
Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz Hanif?" Berbagai
gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan
perasaannya.
Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya
sendiri.
"Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata Pak Arif memecah
kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berberda dengan di
radio. Tetap berkharisma.
"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif
mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah
Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif.
Cuma....memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya
kecelakaan.
Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri
harus diamputasi. Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya
memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata
dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak
terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan
menggunakan kruk saja."
Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif. Shofa mengangkat wajahnya
sedikit dan melihat sekilas ke arah Hanif.
"Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan
yang terpancar dari wajahnya." bathin Shofa.
"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya.
Inilah
saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan
kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat
membutuhkan kehadiran seorang istri."
Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki
yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok
seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak
mulia,dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang
menjadi generasi penghafal dan pengamal Quran. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok
yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.
"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia
tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak
Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?" Pak Arif
berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.
Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan bathinnya.
Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah sholat istikharah
sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif.
Saya punya satu pertanyaan untuk Ustadz Hanif."
"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata Hanif.
"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah
seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?" tanya Shofa.
Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan
adalah landasan aqidah, ibadah dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga
kemampuan untuk mendidik."
Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya
membiaskan senyum yang lebar.
"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki."
"Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.
Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif
menuju
kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu
tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik,
bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya
di atas kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah, jauhkanlah
kami dari syetan dan jauhkanlah dari syetan apa yang engkau rizkikan,
anak-anak kepada kami."
Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya Shofa.
"Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.
"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara sambil menunduk
malu-malu.
"Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif menyentuh dagu
Shofa,mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora
di jiwa mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri.
Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa.
Shofa memandang Hanif tersipu.
"Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.
"Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung beranjak dari duduknya
dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi. Bersama percikan air
wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua
mahluk kecintaan-Nya.
(terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda
hingga syahidnya.)
___________________)|(_______________________
"Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab
dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan
Ramadhan."
---------------------------------------------